Berikut link download aplikasi ini
Alhamdlillah, bisa punya kesempatan nulis di Blog-ku yang udah sekian lama ditinggal.
“Halo apa kbar blog-ku tersayang. Maaf ya aku meninggalkanmu selama ini, cuma sesekali aku kunjungi untuk menyiram dan memberi makan kamu seadanya. Tapi insya Allah, mulai sekarang akan aku urusi lagi kamu….”
Sekedar untuk berbagi saja, ini laporan PKL yang sudah ak selesaikan. Mudah2an bermanfaat bagi pengunjung setia blog Saylhendra. Mungkin contoh laporan ini cocok bagi adik-adik kelasku di Fak. Sains dan Teknologi UIN Syahid (Sofware Engineering).
Bab 2 – Landasan Teori dan Gambaran Umum
Lampiran 1 – Form Kegiatan
Lampiran 2 – Form Penilaian Tempat PKL
Lampiran 3 – Form Penilaian Dosen Pembimbing
Lampiran 4 – Penilaian Akumulatif
Download Juga
Pedoman Penulisan Skripsi dan PKL Fak. Sains dan Teknologi UIN Syahid 2010 – 2011
This tutorial solutions to reset canon iP 1880 or canon iP1800 series Using Software Resetter Canon iP1880 and this resetter work also on canon pixma iP1100, canon pixma iP2500. Before reset using this software resetter you must reset the printer hardware manually. This way to prevent error or hang when running resetter Canon iP1880 on your computer. This reset method to reset waste ink counter on the printer models above.
Here the tutorial to reset Canon Pixma iP1880. The following reset method has tested and work perfectly to reset waste ink counter.
Step 1: Reset hardware
Di awal era populernya Java EE, teknologi yang paling terkenal adalah JSP (Java Server Pages). Namun sejalan dengan waktu, banyak dikembangkan framework-framework yang berbasis pada Java EE. Framework, atau dalam bahasa Indonesianya adalah “kerangka kerja”, merupakan sebuah susunan terstruktur menurut standard tertentu, yang mengadopsi library-library tertentu yang biasa digunakan dalam pemrograman aplikasi. Biasanya ada step-step yang selalu kita lakukan dalam membangun aplikasi (building from scretch), misalnya membangun koneksi dengan database, membuat transaksi CRUD (create, read, update, delete), serta membuat tampilan transaksi tersebut. Nah, step-step itulah yang dikemas dalam sebuah framework dengan tujuan untuk menghemat waktu pengembangan, yang dengan kata lain, memangkas waktu yang digunakan untuk membangun fungsi-fungsi yang itu-itu aja. Framework yang berkembang untuk platform Java EE, antara lain adalah Seam Framework, Zkoss, Struts, Spring, dan sebagainya.
Continue reading
By Romel
SEBAGAI “professional communicator”, salah satu pekerjaan saya adalah mengedit (menyunting) naskah, utamanya memperbaiki naskah itu agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan bahasa jurnalistik. Tapi saya bukan ahli bahasa, namun terus berusaha menguasai tata bahasa dengan baik dan benar sesuai dengan peraturan-perundangan yang berlaku berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Waduh, pake Pancasila dan UUD segala ya…?
Naskah yang saya edit bermacam-macam. Ada naskah berita, artikel, feature, juga naskah buku. Saya lupa berapa jumlah naskah yang sudah saya edit. Yang jelas, beberapa di antaranya berupa kumpulan tulisan “klien” bergelar Dr. dan Prof. untuk diterbitkan dalam bentuk buku. Anda juga punya kumpulan tulisan untuk dijadikan buku?
Saat mengedit sebuah naskah kemarin, saya dibibungkan dengan penulisan kata “hafal” (f) ataukah “hapal” (p). Ternyata, setelah melakukan “studi literatur”, saya menemukan penulisan yang baku atau benar adalah “hafal”, bukan “hapal”.
Semula, saya berpendapat, penulisan yang benar adalah “hapal” karena kata itu asli Indonesia alias bukan kata serapan. Huruf “f” biasanya digunakan untuk kata serapan dari bahasa asing, utamanya Arab (= fa) dan Inggris (= ive/ ph), seperti “huruf” (bahasa Arabnya “harfun” atau “huruf”), Mushaf; alternatif (alternative), positif (positive), georgafi (geography), dan sebagainya. Continue reading
Peserta Diklat Jurnalistik “Professional Writing” di Grand Preanger Hotel Bandung (23/11) merasa kaget ketika saya menyampaikan materi tentang bahasa jurnalistik. Pasalnya, banyak kata atau kalimat yang saya ulas ternyata merupakan hal baru bagi mereka. “Baru tahu,” kata salah seorang peserta.
Sebagai “subsistem” dari “sistem” bahasa Indonesia, bahasa jurnalistik harus mengacu kepada Ejaan Yang Disempunakan (EYD). Lagi pula, menggunakan kata baku sering lebih “hemat kata” –sebagaimana karakter utama bahasa jurnalistik– ketimbang kata tidak baku.
Mereka baru tahu, penulisan yang baku itu ”andal”, bukan “handal”; “imbau”, bukan “himbau”; “embus”, bukan “hembus”, dan sebagainya.
Selama ini, mereka menyangka penulisan yang benar itu “handal” dan “himbau”. Misalnya, dia memang pemain yang handal; pemerintah menghimbau rakyat; ia menghembuskan napas. Yang benar: “pemain andal”, “mengimbau”, dan “mengembuskan”.
Contoh lain: “utang”, bukan “hutang”; “Anda”, bukan “anda”; “permukiman”, bukan “pemukiman”; “perdesaan”, bukan “pedesaan”; “pikir”, bukan “fikir”; “paham”, bukan “faham”; “saraf”, bukan “syaraf”; “asas”, bukan “azas”; “risiko”, bukan “resiko”; “silakan”, bukan “silahkan”; dan sebagainya.
Berkut ini daftar kata baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata baku yang ditulis miring atau kata pertama. Continue reading